Rabu, 19 Mei 2010

Cantiknya Wujud; Keindahan Nan Maha Indah

sebagaimana padi adalah bukti biji-bijian, pula kekupu adalah bukti kepompong

duhai Saki, sebagaimana arak adalah bukti e-angguran, pula mabuk adalah bukti kepayang

demikian pula Pengingat, sang dzaakir, adalah bukti akan yang diingat

dan IndahNya, lukisan alam mayapada, adalah bukti akan KeindahanNya

Cantiknya wujud adalah lautan keindahan tiada tara yang dilihat oleh hamba-hamba yang tenggelam dalam samudera IngatanNya akan diriNya sendiri. Maka, jelas dalam jiwa-jiwa mereka adalah nyanyian merdu alastu birobbikum. Apa yang mereka lihat? Samudera dalam sekendi air, bahkan segenap kehidupan dalam setetes air. Mentari dalam rembulan, bahkan Sang Maha Matahari Bersinar di dalam hati namun sejuk sekali. Kesucian Nya Yang Maha Suci dalam tasbih-tasbih, bahkan dalam desahan dan keluhan.

Kehidupan ini bagi Pengingat, adalah Nan Diingat

Keberadaan ini bagi Pecinta, adalah Nan Dicinta

Pengingat-lah nan Diingat, dan nan dingingat -lah pengingat

Sebagaimana Layla tampak bagi Majnun, walau di mata domba, dan Majnun tampak bagi Layla walau dibalik domba

Bahwasanya orang yang senantiasa tenggelam dalam ingatan kepadaNya adalah diriNya sendiri, sebagaimana menurut Ibn ‘Arabi (q.s.) tentang makna man ‘arafa nafsahu faqod ‘arafa robbahu, barangsiapa mengenal bahwa dirinya adalah ketiadaan, dan tiada selain Dia, maka Ia telah mengenal TuhanNya, yakni Yang Maha Ada.

Dituliskan oleh kekasih orang-orang beriman di akhir zaman, Imam Ruhullah Al-Musawi Khomeini dalam al-aadab al-ma’nawiyyah li ash-sholah, Allah Ta’aala berfirman kepada Nabi Musa ‘alaihissalam (dalam al-Kafiy); Wahai Musa, jangan tinggalkan dzikir (kepada)-Ku dalam setiap perkara. Beliau juga mengutipkan sebuah hadits mulia dari Ash-Shodiq (‘alaihis-salaamu); Allah Ta’alaa berfirman ; Wahai Bani Adam, ingatlah Aku dalam dirimu, (niscaya) aku akan ingat dirimu di dalam diri-Ku. Juga dalam Al-Kaafiy yang mulia, Beliau ( Ash-Shadiq ‘alaihis-salaamu) bersabda; Adz-dzaakiru (Orang yang berdzikir) kepada Allah ‘Azza wa Jalla di tengah-tengah orang yang lupa bagaikan orang yang mati dari orang-orang yang berperang ( al-muhaaribiina al-ghoziina).

Yakni, pedzikir kepadaNya di kalangan orang-orang yang lalai, adalah orang yang telah mati sebelum mati, telah terbuka hijab baginya bahwa dirinya tiada, dan Yang Ada hanyalah Dia Semata. Man ‘arafa nafsahu, yakni barang siapa mengenal dirinya, bahwa dirinya adalah ketiadaan, dan Yang Ada hanyalah Dia, faqod ‘arafa robbahu, maka Dia Mengenal Tuhannya, dan mengenangNya setiap saat.

Mengenang KaruniaNya, KeIndahanNya, Samudera AmpunanNya, Bahari KenikmatanNya, Mentari RahmatNya, Kelembutan WujudNya dan IndahNya yang mengaliri seluruh alam dini dengan merah delima dan merah mutiara mata-mata perindu padaNya yang memerah, pula desah-desah rintihan persatuan padaNya yang melarik ke langit, serta gelinjang-gelinjang hati-hati pecintaNya yang bak ikan mas berenang-renang di samudera luas keberadaanNya.

Sungguh Ia adalah bukti atas diriNya sendiri

sebagaimana tiada bukti atas Wujud kecuali Wujud

Sungguh Ia adalah bukti atas benarNya sendiri

maka tiada Kebenaran, kecuali Ia menjadi penglihatanmu sendiri

orang buta menyangka ia melihat dengan matanya

orang ‘alim menyangka ia melihat dengan ilmunya

orang kasyaf menyangka ia melihat dengan bashirohnya

si faqir telah arif, Ia melihat dengan diriNya

aku-lah bukti akan dia

dan dia-lah bukti aku

karena aku dan dia tak perlu menyatu, karena tak pernah mendua

karena dia dan aku tak perlu bersatu, aku-lah dia-lah aku

oh, pemilik hati, kenali dengan cinta

oh, pemilik mantik, kenali dengan burhan

bahwa Dia Cantik, Cantik Sendiri

bahwa Dia Terang, Dengan Sendiri

wa allohu a’lam bi ash-showwab

Dimitri Mahayana