Sabtu, 24 Desember 2011

Wasiat tak tertulis

Yang paling peka dari sejarah Islam adalah ketika beliau terbaring di ranjangnya. Saat itu, kaum Muslimin sedang mengalami saat-saat yang sangat tragis. Sebab, pembangkangan yang di lakukan oleh beberapa sahabat begitu jelasnya, dan penolakan mereka untuk segera bergabung dengan tentara Usamah adalah merupakan satu bukti dari serangkaian kegiatan bawah tanah dan tekad yang serius dari orang-orang yang bersang -kutan, agar setelah wafatnya Nabi, mereka dapat menguasai urusan pemerintahan dan politik Islam, dan menyisihkan orang yang secara formal telah ditunjuk oleh Nabi Saw. pada hari al-Ghadir sebagai penerus beliau.
Beliau tahu betul niat jahat mereka. Karena -nya, untuk menetralisirnya, beliau mendesak supaya semua shahabat senior bergabung dengan tentara Usamah, dan harus meninggalkan Madinah secepat mungkin untuk berjuang melawan Romawi.

Namun, agar rencananya terlaksana, mereka berdalih dengan berbagai alasan, bahkan mencegah keberangkatan tentara Usamah. Dan bahkan, hingga Nabi meninggal pun tentara Islam itu tidak beranjak dari perkemahannya di Jurf. Malahan kembali ke Madinah setelah enam belas hari.

Dengan demikian, kehendak beliau agar pada hari wafatnya Madinah bisa bebas dari para pengacau yang akan melakukan kegiatan untuk mengganggu sang penggantinya akhirnya tak terwujudkan. Mereka bahkan bukan saja tidak meninggalkan Madinah, melainkan juga berusaha mencegah setiap tindakan yang mungkin mengukuhkan kedudukan Imam Ali sebagai pengganti langsung beliau, dan mencegah beliau dengan berbagai macam cara, agar beliau tidak berbicara lagi tentang masalah ini.

Nabi Saw. mengetahui betul tindakan-tindakan mereka yang mengagetkan itu, serta kegiatan-kegiatan rahasia yang dilakukan oleh sebagian anak perempuan mereka yang kebetulan menjadi isteri beliau. Akhirnya, walaupun menderita demam yang tinggi, beliau terpaksa ke masjid,
lalu berdiri di sisi mimbar, lalu memalingkan wajahnya kepada orang-orang, lalu
berkata dengan suara yang keras yang terdengar hingga keluar masjid: “Hai manusia!.
Kekacauan telah dipercikkan, dan pemberontakan nampak sebagai penggalan-penggalan malam yang gelap. Kalian tidak mempunyai dalih terhadapku. Aku tidak menyatakan apapun sebagai halal kecuali yang dinyatakan oleh al-Qur’an sebagai halal, dan tidak menyatakan apapun sebagai haram kecuali al-Qur’an yang menyatakannya haram.”

Kalimat itu betul-betul menunjukkan kecemasan beliau yang serius tentang masa depan dan nasib Islam sepeninggalnya. Apa yang dimaksudkan oleh beliau, bahwa “kekacauan telah dipercikkan”?. Mungkinkah kekacauan dan perpecahan itu diciptakan setelah wafatnya Nabi?,
yang mana nyala apinya tidak akan padam, atau bahkan terus meningkat?.
Iya, beliau mengetahui kegiatan yang sedang berlangsung di luar rumahnya untuk menguasai kekhalifahan. Karenanya, demi untuk menghalangi pengalihan kekhalifahan dari sumbunya, dan mencegah munculnya perselisihan dan sengketa, maka beliau memutuskan untuk mengukuhkan kekhalifahan Imam Ali dan kedudukan Ahlul baitnya secara tertulis, agar dokumen itu dapat merupakan bukti yang jelas tentang kekhalifahannya. Ketika para sahabat senior datang menanyakan kesehatannya, beliau sedikit menundukkan kepalanya dan merenung sebentar. Kemudian berkata: “Bawakan kepadaku kertas dan tinta, agar dapat kutuliskan sesuatu untuk kalian, agar sesudahnya kalian tak akan pernah tersesat!.”

Namun, tiba-tiba Umar memecahkan kesunyian dengan mengatakan: “Penyakit telah menguasai dia. Sementara al-Qur’an ada bersama kita. Kitab Suci itu cukup bagi kita!.”
Pandangan yang diungkapkan oleh Umar ini menjadi pokok pembicaraan. Beberapa orang menentangnya seraya berkata: “Perintah Nabi harus dita’ati. Ambilkan pena dan kertas supaya apa yang ada dalam pikirannya dituliskan!.”
Namun sebagian yang lainnya memihak kepada Umar dan menghalangi diambilnya pena dan kertas. Nabi Saw. amat jengkel dengan perbantahan dan kata-kata mereka yang lancang itu. Beliau pun lalu mengatakan: “Bangkitlah dan tinggalkan rumah ini!.”
Ibnu Abbas r.a., setelah meriwayatkan insiden ini mengatakan: “Bencana terbesar bagi umat Islam adalah, perselisihan dan perbantahan beberapa orang shahabat yang mencegah Nabi menuliskan wasiat yang hendak beliau tuliskan!.”
Dari Ibnu Abbas r.a., ia berkata: “Ketika Nabi bertambah keras sakitnya, beliau
berkata: “Bawalah kemari kertas, supaya aku dapat menuliskan sesuatu, agar kamu tidak lupa nanti!.” Kata Umar bin Khaththab: “Sakit Nabi bertambah keras. Kita telah mempunyai Kitabullah (Qur’an); cukuplah itu!.” Para sahabat (yang hadir ketika itu berselisih pendapat, dan menyebabkan terjadinya suara gaduh.
Nabi berkata: “Saya harap kalian semua pergi!. Tidak pantas kalian bertengkar di dekatku!.” Ibnu Abbas lalu keluar dan berkata: “Alangkah malangnya, terhalang mencatat sesuatu dari Rasulullah!.”
Dari Ibnu ‘Abbas r.a., katanya: “Ketika sakit Nabi bertambah keras, sewaktu beliau akan meninggal, banyak orang berada di rumah beliau; di antaranya terdapat Umar bin Khaththab. Nabi Saw. bersabda, “Kemarilah, aku bacakan kepada kalian suatu wasiat, hendaklah kalian tulis, agar kalian tidak sesat sepeninggalku!.” Lalu kata Umar: “Tampaknya sakitnya tambah keras. Bukankah kita telah mempunyai al-Quran!?. Cukuplah bagi kita Kitab Allah itu!.” Orang-orang yang ber -ada di sekitar beliau ketika itu berbeda pendapat, lalu mereka bertengkar. Ada yang mengatakan: “Mendekatlah kepada beliau, supaya dibacakan wasiat
beliau yang harus kalian tulis!.” Dan ada pula yang sependapat dengan Umar, sehingga
mereka menjadi ribut di dekat Rasulullah Saw.. Lalu beliau bersabda: “Pergilah kalian dari sini!.”
Kata Ubaidillah, Ibnu ‘Abbas mengatakan, bahwa: “Kerugian yang amat besar (bagi kaum Musli -min), mereka gagal menuliskan pesan terakhir Rasulullah Saw. tersebut, karena mereka bertengkar dan ribut di dekat Nabi Saw. yang sedang sakit keras!.”
Peristiwa bersejarah ini telah dikutip oleh sejumlah ahli hadits dan ahli sejarah
dari berbagai kalangan. Dan dalam riwayat lain mereka mengatakan, bahwa Umar berkata: “Penyakit telah menguasainya. Dia sedang mengigau.” Atau, “Sesungguhnya dia telah berkata dalam keadaan mengigau!."
“Demi bintang ketika terbenam. Tidaklah sekali-kali kawanmu (Muhammad), itu sesat dan tidak pula keliru. Dan tidaklah dia berbicara menurut hawa nafsunya. Melainkan wahyu yang telah di wahyukan kepadanya”.
Perselisihan mereka di hadapan Nabi yang maksum itu demikian menjijikkan dan meresah -kan, sehingga, sebagian isteri Nabi yang sedang duduk di balik tirai bertanya, dengan nada protes: “Mengapa perintah Nabi tidak dita’ati!?.” Dan demi untuk membungkam mereka, Umar berkata: “Kalian para wanita, seperti para sahabatnya Nabi Yusuf. Bilamana Nabi jatuh sakit, kamu meneteskan air mata; tapi bilamana ia sembuh, kamu menguasainya.” Padahal, Sunnah Nabi adalah merupakan soko guru Islam yang kedua, dan Kitab Allah sama sekali tak dapat melepaskan umat Islam dari kebutuhan mereka akan Sunnah Nabinya.
Apabila umat Islam memang tidak memerlukan dokumen itu, yakni dokumen yang hendak didiktekan oleh Nabi, sehingga cukup al-Qur’an saja, lalu mengapa Ibnu Abbas sambil meneteskan air mata mengatakan: “Betapa pahitnya hari Kamis itu, ketika Nabi berkata: “Bawakan kepada ku tulang belikat dan tempat tinta, atau kertas dan tinta, supaya aku dapat menuliskan sesuatu untuk kalian, agar kalian tak akan pernah tersesat sesudahnya.” Namun beberapa orang berkata: “Nabi sedang …..” Mungkinkah al-Qur’an telah cukup bagi umat Islam sehingga tidak memerlukan wasiat Nabi!?.
Sungguh, dengan tidak berhasilnya beliau dalam mendiktekan wasiat itu, disebabkan oleh penolakan mereka, maka dapatlah diduga melalui suatu petunjuk yang pasti, bahwa apa sebenarnya yang hendak beliau tuliskan dalam wasiatnya itu.
Padahal, Allah Swt. berfirman:
“Apa yang diberikan oleh Rasul kepadamu, maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah itu sangat keras hukumannya.”

Rabu, 19 Mei 2010

Cantiknya Wujud; Keindahan Nan Maha Indah

sebagaimana padi adalah bukti biji-bijian, pula kekupu adalah bukti kepompong

duhai Saki, sebagaimana arak adalah bukti e-angguran, pula mabuk adalah bukti kepayang

demikian pula Pengingat, sang dzaakir, adalah bukti akan yang diingat

dan IndahNya, lukisan alam mayapada, adalah bukti akan KeindahanNya

Cantiknya wujud adalah lautan keindahan tiada tara yang dilihat oleh hamba-hamba yang tenggelam dalam samudera IngatanNya akan diriNya sendiri. Maka, jelas dalam jiwa-jiwa mereka adalah nyanyian merdu alastu birobbikum. Apa yang mereka lihat? Samudera dalam sekendi air, bahkan segenap kehidupan dalam setetes air. Mentari dalam rembulan, bahkan Sang Maha Matahari Bersinar di dalam hati namun sejuk sekali. Kesucian Nya Yang Maha Suci dalam tasbih-tasbih, bahkan dalam desahan dan keluhan.

Kehidupan ini bagi Pengingat, adalah Nan Diingat

Keberadaan ini bagi Pecinta, adalah Nan Dicinta

Pengingat-lah nan Diingat, dan nan dingingat -lah pengingat

Sebagaimana Layla tampak bagi Majnun, walau di mata domba, dan Majnun tampak bagi Layla walau dibalik domba

Bahwasanya orang yang senantiasa tenggelam dalam ingatan kepadaNya adalah diriNya sendiri, sebagaimana menurut Ibn ‘Arabi (q.s.) tentang makna man ‘arafa nafsahu faqod ‘arafa robbahu, barangsiapa mengenal bahwa dirinya adalah ketiadaan, dan tiada selain Dia, maka Ia telah mengenal TuhanNya, yakni Yang Maha Ada.

Dituliskan oleh kekasih orang-orang beriman di akhir zaman, Imam Ruhullah Al-Musawi Khomeini dalam al-aadab al-ma’nawiyyah li ash-sholah, Allah Ta’aala berfirman kepada Nabi Musa ‘alaihissalam (dalam al-Kafiy); Wahai Musa, jangan tinggalkan dzikir (kepada)-Ku dalam setiap perkara. Beliau juga mengutipkan sebuah hadits mulia dari Ash-Shodiq (‘alaihis-salaamu); Allah Ta’alaa berfirman ; Wahai Bani Adam, ingatlah Aku dalam dirimu, (niscaya) aku akan ingat dirimu di dalam diri-Ku. Juga dalam Al-Kaafiy yang mulia, Beliau ( Ash-Shadiq ‘alaihis-salaamu) bersabda; Adz-dzaakiru (Orang yang berdzikir) kepada Allah ‘Azza wa Jalla di tengah-tengah orang yang lupa bagaikan orang yang mati dari orang-orang yang berperang ( al-muhaaribiina al-ghoziina).

Yakni, pedzikir kepadaNya di kalangan orang-orang yang lalai, adalah orang yang telah mati sebelum mati, telah terbuka hijab baginya bahwa dirinya tiada, dan Yang Ada hanyalah Dia Semata. Man ‘arafa nafsahu, yakni barang siapa mengenal dirinya, bahwa dirinya adalah ketiadaan, dan Yang Ada hanyalah Dia, faqod ‘arafa robbahu, maka Dia Mengenal Tuhannya, dan mengenangNya setiap saat.

Mengenang KaruniaNya, KeIndahanNya, Samudera AmpunanNya, Bahari KenikmatanNya, Mentari RahmatNya, Kelembutan WujudNya dan IndahNya yang mengaliri seluruh alam dini dengan merah delima dan merah mutiara mata-mata perindu padaNya yang memerah, pula desah-desah rintihan persatuan padaNya yang melarik ke langit, serta gelinjang-gelinjang hati-hati pecintaNya yang bak ikan mas berenang-renang di samudera luas keberadaanNya.

Sungguh Ia adalah bukti atas diriNya sendiri

sebagaimana tiada bukti atas Wujud kecuali Wujud

Sungguh Ia adalah bukti atas benarNya sendiri

maka tiada Kebenaran, kecuali Ia menjadi penglihatanmu sendiri

orang buta menyangka ia melihat dengan matanya

orang ‘alim menyangka ia melihat dengan ilmunya

orang kasyaf menyangka ia melihat dengan bashirohnya

si faqir telah arif, Ia melihat dengan diriNya

aku-lah bukti akan dia

dan dia-lah bukti aku

karena aku dan dia tak perlu menyatu, karena tak pernah mendua

karena dia dan aku tak perlu bersatu, aku-lah dia-lah aku

oh, pemilik hati, kenali dengan cinta

oh, pemilik mantik, kenali dengan burhan

bahwa Dia Cantik, Cantik Sendiri

bahwa Dia Terang, Dengan Sendiri

wa allohu a’lam bi ash-showwab

Dimitri Mahayana

Senin, 19 April 2010

Agama Kontra Kebebasan?

Sebuah proposisi sederhana menyatakan bahwa Islam adalah sebuah sistem keyakinan yang mengklaim kebebaasan bagi manusia, terlepas dari jenis kelamin, ras, budaya, dan lain sebagainya. Tetapi, kita lihat dalam sejarahnya, di tempat-tempat di mana Islam menjadi agama yang dominan seringkali masyarakatnya kurang menghargai kebebasan. Baik kebebasan berpikir, berpendapat atau kebebasan yang lainnya. Pasca teori Francis Fukuyama “The End of History” dan diikuti oleh teori Samuel Huntington “The Clash of Civilization”, Islam dipandang sebagai satu kutub yang penting mengimbangi ideologi atau kontra Liberalisme. Berkenaan dengan isu kebebasan yang diusung oleh kaum liberal, di sini saya ingin mengajukan pertanyaan tentang apa korelasi agama dan kebebasan? Apakah agama harus lebih diutamakan atas kebebasan? Atau sebaliknya, kebebasan adalah pokok dan agama adalah cabangnya?

Tentang isu Islam yang dinubuatkan Fukuyama dan Huntington sebagai kutub ideologi yang menentang Liberalisme akan kita bahas pada kesempatan mendatang dalam bentuk tulisan runut. Sebagai bahan perbandingan dan telaah, silahkan Anda membaca artikel terkini “Melacak Akar dan Manifesto Liberalisme” di site ini.

Adapun tentang isu kebebasan dan agama keduanya merupakan isu yang senantiasa menjadi pembahasan oleh agama-agama semenjak dahulu. Sebagian orang beranggapan bahwa kebebasan adalah akar dan fondasi sehingga harus lebih diutamakan atas segala sesuatu, termasuk agama. Karena menurut anggapan mereka, jika kita menganggap agama sebagai akar segala sesuatu dan kebebasan diletakkan setelah agama, dengan memeluk salah satu agama kita tidak akan pernah merasa bebas. Dan memeluk agama, yang menjadi kebebasan manusia lainnya, akan bernilai dan dapat mendulang ganjaran jika hal itu dilakukan dalam suasana bebas dan sesuai dengan kemauannya.

Dengan demikian, jika posisi kebebasan diletakkan setelah agama, ini berarti ketika memeluk agama, kita tidak memilih hal tersebut dengan bebas. Dan akibatnya, perilaku kita dalam memeluk agama tersebut tidak didasari oleh ikhtiari. Padahal memilih untuk memeluk agama harus berlangsung bebas dan iman sebagai sebuah perilaku yang bersifat ikhtiari dan memiliki akar dalam kalbu manusia, tidak layak dipaksakan atas seseorang.

Atas dasar ini, Allah Swt berfirman:

”Tidak ada paksaan dalam memeluk agama. Dan (jalan) petunjuk dan kesesatan sudah jelas.”

Oleh karena itu, kebebasan adalah pokok dan (harus) lebih diutamakan atas agama.” Dan pada hakikatnya, agama akan berarti jika dinaungi dengan kebebasan.

Dengan demikian, karena agama dilahirkan dari kebebasan, agama itu tidak berhak untuk membatasi kebebasan. Hal itu dikarenakan oleh (sebuah realita bahwa) sesuatu yang bersifat cabang tidak mungkin (dapat) membatasi pokok dan asal-muasalnya. Karena dengan itu, ia akan memusnahkan kredibilitas dirinya.

Atas dasar ini, orang-orang yang hidup di dalam lingkungan beragama, mereka memiliki kebebasan yang tak terbatas, dan hukum-hukum agama tidak berhak untuk membatasainya.

Sebagian argumentasi di atas benar dan sebagian lainnya hanyalah sebuah bentuk fallasi belaka yang dengan sedikit perenungan, wajah aslinya akan tampak.

Bagian pertama argumentasi di atas berasumsi bahwa memeluk agama harus didasari oleh kebebasan (dari pemaksaan), dan hal ini didukung oleh ayat al-Qur’an yang berfirman, “Tiada paksaan dalam beragama” adalah sebuah persepsi yang benar. Adapun bagian keduanya yang berasumsi bahwa setelah memeluk agama pun kebebasan yang harus dihormati dan hukum-hukum agama tidak berhak utnuk mengikatnya hanyalah sebuah fallasi (mughâlathah) belaka.

Demi memperjelas pembahasan, harus diperhatikan bahwa dua fase pembahasan mengenai kebebasan telah dicampur-adukkan menjadi satu dalam argumentasi di atas : pertama, fase kebebasan sebelum memeluk agama, dan kedua, fase setelah memeluk agama. Kebebasan yang merupakan syarat utama sebuah hak memilih berada di urutan sebelum memilih sebuah agama, dan dengan tiadanya kebebasan ini, tidak akan terjadi sebuah pemilihan yang bebas. Akan tetapi, kebebasan setelah memeluk agama, harus direalisasikan dalan ruang lingkup konstitusi agama tersebut.

Dengan kata lain, setelah seseorang memeluk agama dengan bebas dan atas dasar pilihannya sendiri, pada hakikatnya telah menerima dan mengamalkan segala hal yang berhubungan dengan agama tersebut, baik yang berkaitan dengan prinsip dan cabangnya. Dengan ini, sebenarnya ia telah mempersembahkan dirinya di hadapan perintah dan larangan Allah Swt.

Hal ini sebenarnya sering terjadi dalam kehidupan manusia sehari-hari. Umpamanya, setiap orang bebas mendaftarkan diri menjadi tentara atau polisi. Akan tetapi, begitu mereka diterima menjadi tentara dan polisi serta memahami undang-undang yang berlaku di dalam dua angkatan tersebut, mereka tidak berhak untuk melanggar undang-undang tersebut dan mengambil keputusan sesuai dengan keinginan mereka sendiri.

Kadang-kadang supaya fallacy ini dapat lebih diterima oleh masyarakat ramai, mereka memolesnya dengan warna agama dan menjadikan beberapa ayat al-Qur’an sebagai penguat ideologi mereka. Seperti ayat-ayat berikut ini:

“Engkau (Muhammad) tidak berhak untuk berkuasa atas mereka”.

“Kami tidak menjadikanmu sebagai penjaga (amalan-amalan) mereka dan engkau bukanlah wakil mereka”.

“Rasulullah Saw tidak (memiliki tugas) selain menyampaikan (misi Allah)”

“Kami telah menunjukkan kepadanya jalan kebenaran. Sekarang terserah dia apakah ia bersyukur atau mengingkari”.

Barangsiapa ingin (beriman), maka berimanlah, dan barangsiapa ingin (kafir), kafirlah”.

Mereka dengan bersandarkan kepada ayat-ayat tersebut meneriakkan slogan-slogan kebebasan seakan-akan mereka lebih prihatin terhadap kebebasan umat manusia daripada Allah. Akan tetapi, merela lupa bahwa di samping ayat-ayat tersebut di atas, masih terdapat ayat-ayat lain yang berfirman, “Jika Allah dan Rasul-Nya telah memutuskan sebuah perkara, maka tak seorang pun dari Mukmin laki-laki dan wanita yang memiliki pilihan dalam urusan mereka”. Atau ayat yang berbunyi, “Nabi Saw lebih utama terhadap mukminin daripada diri mereka sendiri”.

Dalam menafsirkan ayat tersebut di atas, mayoritas penafsir memiliki pandangan bahwa pendapat Rasulullah Saw lebih utama daripada pendapat orang lain. Jika beliau telah mengambil sebuah keputusan, maka mereka tidak berhak untuk menentangnya.

Jika kita pandang sekilas, sepertinya terdapat kontradiksi antara kedua kelompok ayat tersebut di atas. Akan tetapi, orang yang mengenal (metode) al-Qur’an dan meneliti konteks (qarînah sebelum dan sesudah ayat-ayat kelompok pertama, ia akan memahami bahwa ayat-ayat tersebut tidak memiliki hubungan dengan masalah kebebasan sehingga harus kontradiktif dengan ayat-ayat kelompok kedua. Ayat-ayat kelompok pertama itu hanya bertujuan untuk membesarkan hati dan menghibur Rasulullah Saw. Karena sebagai manifestasi rahmat Ilahi, beliau sangat sedih, risau dan prihatin ketika melihat umat manusia tidak menerima Islam sehingga sedimikian – karena kesedihan dan keprihatinannya ini – seolah-olah beliau ingin membinasakan diri sendiri.

Untuk menghibur Nabi Saw, Allah berfirman, “Seakan-akan engkau (karena mereka enggan beriman) ingin membinasakan dirimu sendiri”. Dengan ini, Allah menurunkan ayat-ayat kelompok pertama demi menenangkan hati beliau.

Atas dasar ini, pandangan yang menyatakan bahwa jika agama kontradiktif dengan kebebasan, maka agama yang harus dikorbankan, tidak memiliki sandaran al-Qur’an sama sekali. Ayat-ayat kelompok pertama tidak dapat dijadikan sandaran bagi statemen mereka, karena penafsiran mereka (terhadap ayat-ayat tersebut) adalah salah satu contoh praktik tafsîr bir ra`yi.

Sumber: Wisdoms4all

Selasa, 26 Januari 2010

Faktor Hilangnya Kasih Sayang dalam Kehidupan

Oleh: Emi Nur Hayati Ma'sum Said

Ikatan perkawinan merupakan sebuah ikatan suci yang terjadi karena adanya kebutuhan dan daya tarik antara laki-laki dan perempuan secara timbal balik. Namun, kehidupan harmonis yang bisa membawa pasangan suami istri menuju ke puncak materi dan spiritual, semata-mata karena adanya unsur "kasih sayang". Mungkinkah ada rumah tangga yang bertahan dan kontinu dengan tanpa adanya kasih sayang kendati sesaat pun? Mungkinkah masing-masing suami istri mampu bertahan menghadapi pasangannya tanpa adanya kasih sayang secara timbal balik dan hubungan kemanusiaan? Sementara Allah mendasari kehidupan rumah tangga dengan fondasi "cinta dan kasih sayang".

Kendati cinta dan kasih sayang adalah unsur penting dalam kehidupan rumah tangga, namun, sikap dan perilaku suami atau istrilah yang akan mengobarkan atau memadamkan api kasih sayang di antara mereka. Baik perilaku muncul berdasarkan kesadaran atau tidak. Berdasarkan kebodohan atau kesengajaan. Tidak sedikit rumah tangga yang dimulai dengan cinta dan kasih sayang, tetapi karena pasangan suami istri tidak atau kurang mengetahui bagaimana caranya mengendalikan bahtera keluarganya, mereka mengalami kebingungan bahkan sampai tenggelam dalam kehancuran. Ikatan perkawinan yang seharusnya membawa pasangan suami istri mencapai ketenangan dan kedamaian malah membawa mereka ke dalam perselisihan dan dosa.

Dalam tulisan ini, penulis ingin mengangkat wacana faktor-faktor apa saja yang bisa memadamkan api kasih sayang dalam kehidupan sebuah rumah tangga dengan bersandar pada metode kehidupan para maksum as.

Tanpa adanya perhatian serius masing-masing pasangan suami istri, terhadap prinsip-prinsip kehidupan rumah tangga dan akhlak, bahtera yang dibangun selama ini akan pudar begitu saja, yang efeknya tidak saja merusak pribadi masing-masing, akan tetapi masyarakat sekitar juga akan merasakan dampaknya. Karena rumah tangga adalah bagian terkecil dari kehidupan sosial, baik buruknya kehidupan sosial tergantung dengan baik buruknya kehidupan setiap rumah tangga.

Tentu saja faktor-faktor pemadam kasih sayang ini, tidak sedikit. Namun penulis akan membahasnya dalam beberapa poin saja, antara lain: berakhlak buruk yang meliputi - galak, bermuka masam dan cemberut, kata-kata yang pedas dan mencaci maki -, mencari-cari kesalahan, tidak memaafkan, memasukkan urusan luar ke dalam rumah tangga, dan tidak mengungkapkan kasih sayang.

Faktor-faktor Pemadam Kasih Sayang

1. Berakhlak Buruk.
Rasulullah saw bersabda: "Akhlak buruk akan menyebabkan hidup sulit dan batin tersiksa.[1] Akhlak yang buruk merupakan sifat yang jelek, dan sulit bahkan tidak mungkin bagi orang lain untuk menerimanya. Bila salah satu dari pasangan suami istri terjangkit akhlak buruk, maka ia akan mengubah rumah tangganya menjadi sebuah neraka. Dalam riwayat Ahlul Bait as. dijelaskan tentang akibat-akibat dan pengaruh akhlak buruk bagi pelakunya, antara lain; manusia yang berakhlak buruk amal perbuatannya rusak, taubatnya tidak diterima, kehidupannya menjadi sangat susah dan ia adalah teman yang paling jelek, pada dasarnya ia bukan orang mukmin, ia sebagai penghuni neraka, ia akan tersiksa di alam kubur, dan jiwanya tersiksa, keluarganya akan menjauhinya, ia senantiasa merasa tidak tenang, rezekinya sempit, ia tidak memiliki teman dan sahabat, ia tidak akan mencapai tujuannya, kehidupannya gelap dan susah.[2] Berakhlak buruk baik dalam lingkungan kerja maupun lingkungan masyarakat dan lingkungan keluarga adalah penyebab kesusahan bagi pelakunya maupun orang-orang sekitarnya. Dalam riwayat ditekankan: "Jangan sampai kawin dengan orang yang akhlaknya buruk"! karena akhlak buruk menyebabkan kesedihan. Sebagaimana riwayat Imam Ali a.s. bahwa setengah dari penyebab ketuaan adalah sedih.[3] Perlu diingat, bahwa salah satu dari sebab tekanan kubur adalah berakhlak buruk dalam rumah terhadap anggota keluarga, sebagaimana kisah tentang Sa'ad bin Ma'adz. Meskipun acara penguburan Sa'ad dihadiri oleh Rasulullah saw dengan kaki telanjang, ia tetap mendapatkan tekanan siksa kubur. Ketika sebabnya ditanyakan kepada beliau, beliau menjawab: "Karena ia berakhlak buruk terhadap keluarganya, ia galak terhadap keluarganya". Kalau seorang sahabat Rasul semacam Sa'ad saja masih mendapat tekanan siksa kubur, bagaimana dengan kita? Yang galak terhadap anggota keluarga. Imam Shadiq as. bersabda: "Salah satu dari doa Rasulullah adalah demikian: "Ya Allah! Aku berlindung dari perempuan yang membuat aku tua sebelum waktunya". [4]

Tentunya berakhlak buruk di sini memiliki makna umum, dan ia memiliki pembagian-pembagian secara rinci seperti; galak, muka masam dan cemberut, kata-kata pedas, dan mencaci maki dan lain-lain. Sifat-sifat yang ada ini, bila terdapat pada salah satu pasangan suami istri, maka kehidupan rumah tangga akan menjadi pahit dan suram. Yang pada akhirnya menyebabkan padamnya api kasih sayang di antara keduanya. Untuk lebih jelasnya, kita bahas secara rinci masing-masing pembagian di atas bersama unsur-unsur penyebabnya.

· Galak
Orang yang galak, biasanya karena unsur genetik, kejiwaan, makanan dan kurang tidur serta istirahat. Bila sebabnya karena unsur genetik dan keturunan, sebaiknya merujuk ke psikiater untuk mendapatkan informasi yang diperlukan, dan adanya latihan-latihan menahan diri. Bila karena kurang tidur dan istirahat, sebaiknya tidur yang cukup dan mengkaji pengaruh-pengaruh dan akibat sikap galak, sehingga bisa dikendalikan dengan baik. Orang boleh lelah karena aktivitasnya di luar rumah, tetapi, ia tidak berhak melampiaskan kelelahannya terhadap pasangan hidupnya atau anak-anaknya.

· Bermuka Masam dan Cemberut
Berkaitan dengan masalah muka masam dan cemberut, riwayat Imam Ali as. mengatakan: "Orang mukmin, keceriaannya ada di wajahnya, dan kesedihannya ada di dalam hatinya". Dengan demikian, orang yang hidup berumah tangga, ia harus lebih menjaga masalah ini. Kita sendiri senang bila berhadapan dengan orang yang mukanya ceria dan ramah, dan tidak suka berhadapan dengan orang yang bermuka masam dan cemberut. Oleh karena itu, orang yang bermuka ceria, ia lebih sukses dalam berhubungan dan berinteraksi dengan sesamanya, dan dicintai oleh anggota masyarakat. Tentu saja, manusia kadang mengalami kesedihan. Namun, jangan sampai kesedihan itu ditampakkan di depan umum, khususnya anggota keluarga. Karena akan mengganggu ketenangan mereka, sehingga mereka akan menjauh dan ini menyebabkan padamnya api kasih sayang dalam kehidupan.

Bermuka masam dan cemberut, boleh jadi karena kebiasaan, terlalu berharap dari orang lain, menganggap diri paling wah, marah, khawatir dan tidak adanya ketenangan serta kondisi kejiwaan. Apapun sebabnya tidak seorang pun boleh menampakkan kecemberutannya di hadapan orang lain. Karena bermuka masam adalah sesuatu yang tidak baik. Dan sebaiknya belajar dari ajaran-ajaran agama, dengan selalu bermuka ceria, senantiasa senyum dan menggunakan kata-kata yang penuh kasih sayang, sabar dalam menghadapi kekurangan orang lain. Jangan banyak menuntut orang lain untuk sempurna dengan menggunakan kata-kata yang menyakitkan. Sementara, kita lupa bahwa dengan muka kita yang cemberut, kita sendiri sedang menjauhi proses kesempurnaan.

Dalam kehidupan rumah tangga, suami istri perlu memperhatikan masalah ini dengan baik. Karena pengaruhnya besar sekali dalam keharmonisan anggota keluarga, terutama dalam pendidikan dan kejiwaan anak-anak. Orang tua yang ceria akan menghasilkan anak-anak yang ceria juga.

· Kata-kata Pedas dan Menyakitkan
Kata-kata yang pedas dan menyakitkan hati, tidak lain hanya membuat orang lain benci dan dendam. Imam Ali as. dalam hal ini bersabda: "Kata-kata yang pedas lebih menyakitkan dari tusukan tombak".[5]

Setiap penyakit, baik penyakit jasmani maupun rohani ada sebabnya. Untuk melakukan penyembuhan dan pengobatan, pada tahap awal harus mencari sebab dan faktor-faktor pencetusnya. Berbicara yang menyakitkan hati orang lain, kata-kata yang pedas dan menyakitkan adalah sebuah penyakit jiwa, dan merupakan akhlak yang buruk. Faktor-faktornya antara lain:

a. Dendam dan Benci.
Salah satu penyebab seseorang berbicara menyakitkan adalah dendam dan kebenciannya kepada orang lain. Ketika seseorang memiliki dendam terhadap orang lain, ia selalu tertekan dan tidak tenang, sehingga sebisa mungkin menggunakan kesempatan untuk menyakiti hati dan jiwa orang yang dianggap sebagai lawannya.

b. Hasut
Hasut adalah seseorang tidak menginginkan orang lain memiliki nikmat dan kebaikan. Dengan kata-katanya yang pedas penghasut berusaha merusak dan menjatuhkan orang yang dihasutinya. Perlu diketahui bahwa hasut adalah dosa besar, dan menghapus iman seseorang sebagaimana api melenyapkan kayu. [6]

c. Merasa Hina
Seseorang berkata-kata pedas kepada orang lain, boleh jadi karena ia merasa dirinya rendah dan hina daripada orang lain yang dianggapnya lebih sukses, baik dalam kehidupan, pelajaran dan karier. Oleh karenanya, dengan kata-katanya yang pedas ia ingin menyakiti orang tersebut dan menunjukkannya bahwa ia sebagai orang yang tidak sukses seperti dirinya. Jelas perbuatan ini adalah dosa besar, dan orang yang merasa dirinya rendah dan hina sebaiknya berusaha dengan sungguh-sungguh dan tawakal kepada Allah untuk mencapai kesuksesan, agar selamat dari perbuatan yang buruk ini.

d. Memandang diri Super
Salah satu sebab seseorang berkata pedas adalah bila ia memandang dirinya super. Orang yang memandang dirinya super, ia memandang orang lain kecil dan tidak berarti, akhirnya ia selalu mengejek dan menghina dan menyakiti hati orang tersebut. Orang yang menganggap dirinya super hendaknya perhatian dengan penyakit yang menyerang jiwanya, dan secepatnya untuk mengobatinya.

· Mencaci maki
Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela. [7] Mencaci maki orang lain hukumnya haram. Hukum haram di sini tidak adanya bedanya, apakah orang yang di caci keluarganya; istri, anak atau orang lain yang tidak ada hubungan keluarga. Bagaimanapun kondisinya; marah, tertekan, kesibukan serta kepanikan, seseorang tidak berhak untuk mencaci maki orang lain untuk dijadikan pelampiasan hawa nafsunya. Imam Baqir as. bersabda: "Allah membenci pencaci maki dan orang yang suka mencaci" [8] (mencari-cari kekurangan orang lain sehingga ia bisa mencari alasan untuk mencaci makinya). Orang yang di caci maki akan merasa marah dan benci, bahkan akan padam rasa kasih sayangnya terhadap orang yang mencaci maki. Mencaci maki menunjukkan rendahnya kepribadian pencaci maki. Dan tidak seorang pun akan menampakkan rasa kasih sayang dan persahabatan dengannya. Imam Shadiq as. bersabda: "orang yang ditakuti orang lain karena lisannya, ia adalah ahli neraka". [9]

2. Mencari-cari Aib dan Kejelekan Orang Lain
Imam Ali as. bersabda: "Jangan menjadi pencari aib dan jangan memandang segala sesuatu jelek".
Imam Baqir as. bersabda: “Sejelek-jeleknya orang adalah orang yang mencari-cari kejelekan orang lain sementara ia memiliki kejelekan tersebut, tetapi tidak merasakannya”. [10]

Selain Maksumin as. tidak seorang pun memiliki kebaikan semata-mata. Manusia, selain memiliki sisi kebaikan, ia juga memiliki sisi kejelekan. Tidak seorang pun berhak untuk mengharapkan orang lain sempurna. Orang yang selalu bersandar pada kekurangan orang lain, senantiasa curiga dan tidak merasa cukup dengan apa yang ada pada orang lain. Orang yang demikian ini telah kehilangan kreativitas berteman dan menyayangi orang lain. Suami atau istri yang bersandar pada kesalahan pasangannya, sekecil-kecilnya kesalahan pasangannya akan dijadikan alasan untuk memarahinya. Bila suami atau istri demikian, maka pasangannya akan menjauhinya, dan kehidupan bagi mereka tidak menyenangkan lagi.

Bila kita ingin memiliki suasana yang hangat dalam kehidupan rumah tangga, mari kita lihat sisi positif pasangan kita. Sehingga kita tidak mudah marah, juga tidak membuat pasangan kita tersiksa. Selain itu jangan banyak berharap kepada orang lain, sehingga kita tenang dan santai, bila orang lain tidak sesuai dengan keinginan kita. Bila pasangan kita berbuat salah atau berbuat sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan kita, maka jangan spontan melakukan interaksi.

Mencari-cari kejelekan orang lain akan merusak hubungan yang sudah akrab sebelumnya. Bahkan akan menjadikan permusuhan. Sebaliknya memuji kelebihan orang lain akan membuat hubungan semakin akrab.

Sebagaimana pesan Imam Ali as. kepada Imam Hasan as: “Jadikanlah dirimu sebagai tolok ukur! Berlakulah kepada orang lain, bila engkau suka hal itu dipelakukan untukmu, dan jangan memperlakukan orang lain, jika engkau tidak suka diperlakukan seperti itu”. Dudukkan orang lain sebagai diri kita, jika kita senang orang lain menghormati kita maka kita hormati orang lain. Jika kita tidak suka orang lain berakhlak buruk kepada kita, maka jangan berakhlak buruk terhadap orang lain.

3. Tidak mau Memaafkan Kesalahan Orang Lain
Sejelek-jeleknya manusia adalah orang yang tidak mau memaafkan kesalahan orang lain.[11] Pemaaf adalah salah satu dari sifat Allah. Barang siapa yang ingin mendapatkan ampunan ilahi, ia harus memiliki sifat pemaaf. Bagaimana mungkin seseorang akan diampuni oleh Allah, sementara ia sendiri tidak mau memaafkan kesalahan orang lain. Seseorang bisa mengetuk pintu Allah melalui sifat yang dimilikinya. Katakanlah seseorang mau minta ampun kepada Allah, maka ia harus memiliki sifat ilahi tersebut.

Orang yang tidak mau mengampuni kesalahan orang lain, akan membuat orang lain benci dan dendam kepadanya. Apalagi jika hal ini terjadi dalam sebuah rumah tangga. Yang seharusnya anggota keluarga memaafkan yang lainnya, malah keadaan dibikin lebih ruwet yang akibatnya lebih fatal.

4. Memasukkan Urusan Luar ke dalam Rumah Tangga
Seorang suami atau istri yang memiliki kesibukan di luar rumah, senantiasa berhadapan dengan berbagai macam bentuk sikap dan perilaku manusia. Bila suami atau istri di luar rumah bermasalah dengan rekan kerjanya, hal ini tidak perlu diceritakan kepada pasangannya. Mengapa demikian, karena suami atau istri akan menemukan titik kelemahan pasangannya, dan suatu saat akan dijadikan kunci untuk menjatuhkannya, bila terjadi percekcokan di antara keduanya. Begitu juga, masing-masing pasangan suami istri jangan menceritakan kelebihan dan memuji-muji teman kerjanya; teman kerja perempuan maupun laki-laki, karena akan berakibat fatal. Misalnya; suami menceritakan kelebihan teman kerja perempuannya kepada istrinya, maka akan timbul kecurigaan pada istri terhadap suaminya. Begitu juga sebaliknya. Bila suami menceritakan kelebihan teman kerja prianya, maka istri akan membanding-bandingkan orang tersebut dengan suaminya. Sementara, membanding-bandingkan apa yang kita miliki dengan apa yang dimiliki orang lain akibatnya adalah kita tidak merasa nyaman dengan apa yang kita miliki. Kita senantiasa merasa kurang dan lupa dengan pemberian Allah. Yang tampak di mata kita hanya kepunyaan orang lain, sehingga kita tidak mensyukuri apa yang diberikan Allah kepada kita. Orang yang senantiasa membanding-bandingkan pekerjaan, harta, posisi dan segala apa yang dimilikinya dengan apa yang dimiliki orang lain, ia tidak akan merasa tenang dalam hidupnya.

Jalan keluar, agar jangan sampai kita hanya melihat apa yang dimiliki orang lain adalah pertama; meyakini bahwa apa yang diberikan Allah kepada setiap hamba-Nya akan dimintai pertanggung jawaban. Kedua; kita harus melihat orang-orang yang kondisinya lebih rendah dari kita, sehingga kita akan senantiasa mensyukuri apa yang diberikan Allah kepada kita.

Dari sisi lain bila suami menceritakan masalahnya di luar rumah kepada istrinya, dikhawatirkan istri akan menceritakannya kepada kerabatnya, yang pada akhirnya menjadi gosip di antara mereka. Gosip-gosip inilah yang akan menyebabkan keributan dalam sebuah komunitas. Oleh karena itu, tidak semua yang diketahui suami harus diceritakan kepada istrinya, begitu juga sebaliknya. Karena keributan yang terjadi berkaitan dengan keluarga dan akan menyebabkan ketidaknyamanan dalam kehidupan rumah tangga itu sendiri.

Masalah di luar rumah tangga tidak perlu diusung ke dalam lingkungan rumah tangga, begitu juga sebaliknya masalah dalam lingkungan rumah tangga tidak perlu dibawa keluar, bila pasangan suami istri ingin hidup tenang dan tenteram.

5. Tidak Mengungkapkan Rasa Kasih Sayang
Setiap manusia secara fitrah membutuhkan perhatian dan kasih sayang dari sesamanya. Perhatian dan kasih sayang kaitannya dengan hati. Namun, bila tidak ditampakkan dengan bentuk perilaku dan sikap maka orang lain tidak akan memahaminya.

Berkaitan dengan kehidupan rumah tangga Rasulullah saw bersabda: “Ucapan seorang suami kepada istrinya “Aku mencintaimu” sama sekali tidak akan hilang dari hatinya”. [12]

Seseorang mengungkapkan kasih sayang kepada sesamanya, khususnya ungkapan kecintaan suami kepada istrinya, akan membuat istri memahami seberapa jauh kasih sayang suaminya kepadanya. Pengungkapan kasih sayang bisa dilakukan dengan berbagai cara seperti; memberi hadiah, menelepon, meluangkan waktu untuk berbincang-bincang, bercanda, dan mengungkapkan dengan kata-kata. Ungkapan kasih sayang suami kepada istri adalah motor penggerak dalam kehidupan mereka.

Bila suami mengingat hari ulang tahun kelahiran istrinya, hari perkawinan mereka, kemudian mengadakan acara untuk mensyukuri ikatan suci ini, suami mengucapkan terima kasih atas segala jerih payah si istri, dan meminta maaf atas segala kesalahannya, maka kehidupan mereka akan lebih ceria dan menyenangkan begitu juga kekhawatiran dan kesedihan yang menghantui pikiran istri tidak akan mampu memisahkan ikatan suci keduanya, dan tidak seorang pun bisa mewujudkan kedengkian di antara keduanya.

Dalam kehidupan rumah tangga, perlu adanya pengungkapan rasa kasih sayang dari kedua belah pihak, di berbagai kondisi. Bila suami atau istri berpikir bahwa kasih sayang hanya berurusan dengan hati, dan tidak perlu diungkapkan, maka kehidupan rumah tangga akan menjadi dingin dan senyap, dan kecintaan masing-masing terhadap pasangannya akan memudar.

Sebagai penutup, untuk memiliki sebuah barang boleh jadi seseorang mudah untuk mendapatkannya. Tetapi menjaganya tidak semudah yang dibayangkan. Perlu adanya tips-tips, sehingga barang tetap awet dan terjaga.

Boleh jadi seseorang mudah untuk mengikat sebuah ikatan perkawinan, namun menjaga ikatan, perlu ilmu dan cara-cara yang diperlukan, karena pasangan kita bukan barang, melainkan orang. Orang yang memiliki perasaan. Di sinilah kita harus menjaga perasaan pasangan kita, agar ikatan suci perkawinan tetap terjaga sampai kita tua.[]


Penulis: Mahasiswi S2 Jurusan Tarbiyah Islamiyah & Akhlak di Universitas Jamiah Azzahra, Qom-Iran


---------------------------------------------------

Rujukan:
[1] . Muhammad Ray Shahri, Muntkhab Mizan Al-Hikmah, talkhis Sayyid Hamid Al-Husaini, Dar Al- Hadis, 1383 H.S, hal 171, hadis 1962.
[2] . Lihat, Muntkhab Mizan Al-Hikmah, hadis-hadis akhlak buruk, hal 171.
[3] . Nahjul Balaghah, Hikmah 143.
[4] . Mahajjah Al-Baidho, jilid 3, hal 88.
[5] . Mizan al-Hikmah, hadis no. 18190.
[6] . Al-Kafi, jilid 2, hal 206.
[7] . QS, Al-Humazah: 1.
[8] . Mizan Al-Hikmah, hal 401.
[9] . Ibid.
[10] . Al-Kafi, jilid 2, hal 459.
[11] . Mizan Al-Hikmah, jilid 2, hadis ke 9196.
[12] . Wasail As-Syiah, jilid 14, hal 10.

Selasa, 04 Agustus 2009

Liberation by the Veil

Liberation by the Veil

Modesty and chastity , very important ideologies with Islam, are achieved by prescribing standards on behavior and the dress of a Muslim. A woman who adheres to the tenements of Islam is required to follow the dress code called Hijab, other synonymes are Veil, Purdah, or just Covering. It is an act of faith and establishes a Muslim's life with honor, respect and dignity. The Hijab is viewed as a liberation for women, in that the covering brings about "an aura of respect" (Takim, 22) and women are recognized as individuals who are admired for their mind and personality, "not for their beauty or lack of it" ( Mustafa ) and not as sex objects.

Contrary to popular belief, the covering of the Muslim woman is not oppression but a liberation from the shackles of male scrutiny and the standards of attractiveness. In Islam, a woman is free to be who she is inside, and immuned from being portrayed as sex symbol and lusted after. Islam exalts the status of a woman by commanding that she "enjoys equal rights to those of man in everything, she stands on an equal footing with man" (Nadvi, 11) and both share mutual rights and obligations in all aspects of life.

Men and women though equal are not identical, and each compliments the other in the different roles and functions that they are responsible to. "From an Islamic perspective, to view a woman as a sex symbol is to denigrate her. Islam believes that a woman is to be judged by her [virtuous] character and actions rather than by her looks or physical features" (Takim, 22). In the article, "My Body Is My Own Business", Ms. Naheed Mustafa , a young Canadian born and raised, university-educated Muslim woman writes,

"The Quran [ which is the Holy Book for Muslims] teaches us that men and women are equal, that individuals should not be judged according to gender, beauty, wealth or privilege. The only thing that makes one person better than another is his or her character."

She goes on to say,

"In the Western world, the hijab has come to symbolize either forced silence or radical, unconscionable militancy. Actually, its neither. It is simply a woman's assertion that judgement of her physical person is to play no role whatsoever in social interaction."

Muslims believe that God gave beauty to all women, but that her beauty is not be seen by the world, as if the women are meat on the shelf to be picked and looked over. When she covers herself she puts herself on a higher level and men will look at her with respect and she is noticed for her intellect, faith, and personality, not for her beauty. In many societies, especially in the West, women are taught from early childhood that their worth is proportional to their attractiveness and are compelled to follow the male standards of beauty and abstract notions of what is attractive, half realizing that such pursuit is futile and often humiliating (Mustafa).

Chastity, modesty, and piety are promoted by the institution of veiling. "The hijab in no way does not prevent a woman from playing her role as an important individual in a society nor does it make her inferior." (Takim,22)

A Muslim woman may wear whatever she pleases in the presence of her husband and family or among women friends. But when she goes out or when men other than her husband or close family are present she is expected to wear a dress which will cover [her hair and] all parts of her body, and not reveal her figure. What a contrast with Western fashions which every year concentrate quite intentionally on exposing yet another erogenous zone to the public gaze! The intention of Western dress is to reveal the figure, while the intention of Muslim dress is to conceal [and cover] it, at least in public (Lemu,25).

The Muslim woman does not feel the pressures to be beautiful or attractive, which is so apparent in the Western and Eastern cultures. She does not have to live up to expectations of what is desirable and what is not. Superficial beauty is not the Muslim woman's concern; her main goal is inner spiritual beauty. She does not have to use her body and charms to get recognition or acceptance in society. It is very different from the cruel methods that other societies subject women, in that their worth is always judged by their physical appearance. There are numerous examples of discrimination at the workplace where women are either accepted or rejected, because of their attractiveness and sex appeal.

Another benefit of adorning the veil is that it is a protection for women. Muslims believe that when women

display their beauty to everybody, they degrade themselves by becoming objects of sexual desire and become vulnerable to men, who look at them as "gratification for the sexual urge"(Nadvi,8). The Hijab makes them out as women belonging to the class of modest chaste women, so that transgressors and sensual men may recognize them as such and dare not tease them out of mischief" (Nadvi, 20). Hijab solves the problem of sexual harassment and unwanted sexual advances, which is so demeaning for women, when men get mixed signals and believe that women want their advances by the way they reveal their bodies.

The western ideology of, 'if you have it, you should flash it!' is quite opposite to the Islamic principle, where the purpose is not to bring attention to ones self, but to be modest.

women in so many societies are just treated as sex symbols and nothing more than just a body who "display themselves to get attention" (Mustafa). A good example is in advertising, where a woman's body is used to sell products. women are constantly degraded, and subjected to reveal more and more of themselves. .

The Covering sanctifies her and forces society to hold her in high esteem. Far from humiliating the woman, Hijab actually grants the woman an aura of respect, and bestows upon her a separate and unique identity (Takim, 22). According to the Qu'ran, the same high standards of moral conduct are for men as it is for women. Modesty is essential in a man's life, as well, whether it be in action, morals or speech. Islam also commands proper behavior and dress of men, in that they are not allowed to make a wanton show of their bodies to attract attention onto themselves, and they too must dress modestly. They have a special commandment to lower their eyes, and not to brazenly stare at women.

In Sura Nur of the Holy Qu'ran it says,

"Say to the believing men that they should lower their gaze and guard their modesty; that will make for greater purity for them, and God is well acquainted with what they do".

Many of the misconceptions of the Muslim woman in the west, particularly her veil stems from Arab and Muslim countries that have deviated from the true doctrines of Islam, and have " mixed up Islamic principles with pre-Islamic pagan traditions" (Bahnassawi, 67)

In this present period of decline from Islam, many Muslim women are alienated, isolated from social life, and are oppressed by Muslim men and rulers who use the name of religion for their injustices. (Bahnassawi, 65) In this instance, the Hijab is used as a means of keeping many Muslim women away from society, with the misconception that it signifies isolation and weakness. But as many Muslim women come back into the fold of the untainted and true Islam, they are able to recognize the injustice of men who have for so long stripped them of their rights to be an integral part of society and "deserving the same dignity, honor, progress and prosperity as the men" (Nadvi,26).

women regaining their true identity and role in society, are now wearing Hijab and embracing its concept of liberation for women, and are taking their rightful places that Islam had endowed upon them fourteen hundred years ago.

Ref : Aalulbayt GIC

Rabu, 29 Juli 2009

TAMPILAN WINDOWS


Bagi yang menggunakan Windows XP dan mungkin merasa bosan dengan tampilan seperti itu, saat ini tersedia berbagai program yang bisa mengubah hampir semua tampilan windows. Ketika awal-awal muncul Windows Vista, populer dengan tampilan Vista, sehingga muncul software semisal Vista Transformation Pack.

Belum lama direncanakan akan muncul windows 7, dan pengguna windows XP pun bisa merasakan tampilan Windows 7 ini tanpa harus menginstall Windows 7 sendiri. Kita juga bisa mengubah tampilan XP menjadi Ubuntu Linux atau Mac OS X.

1. Windows Vista

Untuk mengubah tampilan windows XP ke Vista, sepertinya sudah banyak yang menyediakan. Salah satu yang pernah saya coba adalah Vista Transformation Pack, dan memang tidak begitu memberatkan kinerja komputer. Menurut megaleecher yang telah me-review beberapa program sejenis, yang tebaik adalah Vista Skin Pack 5.0.

Disana dikatakan bahwa ini merupakan salah satu transformation pack yang terkecil dan paling rendah menggunakan resource komputer. Perubahan terdapat di berbagai tempat, seperti icon, animasi, gambar, menu, kelakuan dan sebagainya. Bisa di install di Windows XP SP1/SP2/SP3, Media Center Edition atau Windows 2003. Selain itu ada menu restore untuk mengembalikan ke tampilan semula.

Download Vista Skin Pack 5.0 ( 34.9 MB) via megaleecher

2. Windows 7

Meski Windows 7 versi final belum di rilis, jika ingin merasakan dan melihat bagaimana tampilan XP/Vista yang mirip Windows 7 bisa menggunakan “Windows 7 Desktop Theme”. Karena Informasi detail tentang Windows 7 sendiri belum selesai, maka mungkin tampilan ini agak mirip Vista, dengan beberapa perubahan. Tetapi jika ingin lebih lengkap bisa mencoba “Windows Vienna Transformation Pack”

Untuk Windows 7 theme mungkin hanya mengubah beberapa tampilan utama saja, sedangkan Windows 7/Vienna Transformation Pack lebih komplek, mencakup : Vienna Navigator, Cool Superbar, Windows 7 Visual Styles, Sounds, Windows 7 wallpapers, Cursor Set, Windows Vienna, Logon Screen dan Windows Vienna Bootskin, sehingga ukurannya jauh lebih besar.

Download Windows 7 Desktop Theme ( 5.12 MB)
Download Windows Vienna Transformation Pack (59.2 MB)

3. Ubuntu Linux

Windows dengan tampilan windows mungkin sudah biasa, tetapi dengan tampilan Linux mungkin masih jarang digunakan. Dengan Ubuntu customization pack, kita bisa mengubah tampilan windows XP menjadi tampilan Ubuntu.

Customization Pack ini akan mengubah banyak hal, seperti tampilan visual, icon, boot screen, cursor, tampilan Logon, Wallpaper, Screensaver, Ubuntu Sound, jam, 3D Desktop Manager dan lainnya.

Download Ubuntu Customization Pack (26.1 MB)

4. Mac OS X

Sudah biasa dengan Linux atau Windows ? Mungkin tampilan Mac OS X bisa menyegarkan tampilan yang terasa membosankan. Dengan “Leopard Mods On XP” tampilan windows XP bisa di rombak total menyerupai tampilan Mac OS X.

Tidak seperti transformation pack lainnya, kalau ini tidak hanya sekedar theme / skin saja, tetapi mengubah beberapa file sistem inti windows, seperti explorer.exe, shell32.dll, mydocs.dll dan lainnya. Dan hanya berjalan untuk Windows XP SP2, English version. Jadi sebelum menggunakan software ini, pastikan untuk membackup data dan mempelajari instruksi yang dijelaskan didalamnya.

Untuk download silahkan buka link berikut dan klik menu Download bagian kiri, jika muncul gambar (sponsor) klik saja pojok kanan atas ” Click here to continue to deviantART deviantART” agar bisa download file yang dimaksud.

Download Link (13.91 MB)

Perlu diperhatikan sebelum menginstall software-software diatas agar membaca petunjuk yang disertakan didalamnya dan dipahami dengan baik, termasuk permasalahan atau akibat yang mungkin timbul setelahnya dan cara mengatasinya.

Referensi : Windows 7 Theme, Ubuntu Customization Pack For Windows XP, Windows XP Theme Pack, Windows 7 Codenamed Vienna Transformation Theme Pack

Rabu, 11 Maret 2009

Menyingkap yang tak terungkap tentang Wahabi, kali ini dari Ayatullah Ja’far Subhani

Menyingkap yang tak terungkap tentang Wahabi, kali ini dari Ayatullah Ja’far Subhani

Musim haji tahun ini diterbitkan sebuah buku dengan nama “Qira’atun Rasyidah Fi Kitab Nahjil Balaghah” yang ditulis oleh Abdurrahman bin Abdullah al-Jami’an di Arab Saudi. Buku itu kemudian diterjemahkan menjadi “Nahjul Balaghah Ra Dubareh Bekhanim” (Membaca kembali Nahjul Balaghah). Di situ, sebagai penerjemah dicantumkan nama Ayatullah Ja’far Subhani.

Sebagaimana biasa dalam musim haji, oleh pihak Arab Saudi, dibagikan buku-buku kepada jamaah haji. Edisi Parsi buku ini dibagikan kepada jamaah haji Iran. Setelah dibaca, ternyata ditemukan berbagai pemahaman yang tidak benar terhadap Nahjul Balagah, terutama dalam masalah Imamah dan Khilafah. Akhirnya, dilakukan pengecekan ulang kepada Ayatullah Subhani. Setelah membaca buku tersebut, Ayatullah Subhani berkata: “Alhamdulillah, Allah Zat yang telah menjadikan musuh-musuh kami dungu”. Beliau melanjutkan: “Siapa saja yang pernah membaca tulisan-tulisan kami, pasti tahu bahwa ini bukan hasil karya saya. Dan ini adalah kebohongan atas nama seorang ulama Syi’ah. Cara yang dipakai sama sekali jauh dari akhlak Islam. Jelas, selain cara yang seperti ini tidak memiliki dampak apa-apa, keimanan orang akan semakin kokoh dengan tuntunan Imam Ali as”.

Berikut ini adalah pernyataan tertulis Ayatullah Ja’far Subhani.

Bismillahirrahmanirrahim

Kewajiban setiap muslim setelah belajar dan memahami dengan benar agama Islam adalah mengajarkan dan mentabligkannya. Tablig agama adalah bagian dari amar makruf dan nahi mungkar, sebuah kewajiban kifa’i bagi kaum muslimin.

Tablig merupakan hal yang penting dan sebuah kewajiban dalam agama Islam. Namunpun demikian, tablig memiliki syarat-syarat dan etika. Ulama Islam telah menjelaskan masalah ini, dalam buku-buku mereka di bawah judul “Adab ad-Da’wah” (etika dakwah). Salah satu syarat paling penting dalam melakukan tablig untuk sampai pada tujuan adalah cara yang benar, baik dan suci. Tablig agama tidak boleh dikotori dengan bohong. Harus jelas bahwa tablig dalam Islam tidak menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan.

Sangat disayangkan sekali di dunia Islam, ada saja orang-orang yang memiliki posisi sebagai ulama tapi menghalalkan segala cara. Beberapa contoh kasus dapat dilihat sebagai berikut:

1. Membuat hadis palsu atas nama Rasulullah saw

Setelah meninggalnya Nabi Muhammad saw, membuat hadis palsu termasuk profesi yang banyak dilakukan demi melanggengkan kekuasaan pemerintah yang korup. Membuat hadis palsu atas nama Rasulullah saw. Nabi Muhammad saw sendiri telah memberikan wejangan “Barang siapa yang berbohong atas namaku, niscaya tempatnya adalah di neraka” (Sahih Bukhari, jilid 1, bab “Itsmu Man Kadziba ‘Ala an-Nabi”, hadis nomor 107, 108 dan 109).

Ancaman ini tidak mempan bagi mereka yang hatinya telah keras dan para pecinta dunia. Setelah wafatnya Rasulullah saw pembuatan hadis palsu sedemikian merajalelanya sehingga untuk membedakan mana hadis asli dan mana yang palsu sangat sulit. Cukup kita melihat bahwa sejarah mencatat ada sekitar tujuh ratus ribu lebih para pembuat hadis palsu lengkap dengan data-data pribadi (Al-Ghadir, jilid 5, hal 301-446).

2. Mengubah (tahrif) sebab turunnya ayat al-Quran

Al-Quran adalah mukjizat ilahi dan sumber pengetahuan. Al-Quran belum pernah dirubah semenjak turunnya hingga sekarang dan akan datang. Kata-kata yang ada di dalamnya, tanpa kekurangan sedikitpun terjaga oleh mereka yang menghapalkannya. Akan tetapi, para pedagang hadis, penyembah dunia dalam baju ulama dan kelompok yang termarjinalkan selalu berusaha dengan segala cara untuk menafsirkan ayat al-Quran sesuai dengan kepentingan mereka.

Ahli-ahli tafsir menyebutkan:

“Pada malam hari di mana para pemimpin penyembah berhala Quraisy memutuskan untuk menyerang rumah Nabi Muhammad saw pada tengah malam dan membunuhnya, Nabi memerintahkan kepada Ali as untuk tidur di tempat pembaringannya. Karena Nabi hendak pergi melakukan hijrah.

Pengorbanan yang dilakukan oleh Ali as dipuji oleh Allah swt lewat surat Baqarah ayat 207 (tafsir as-Tsa’labi, jilid 2, hal 125-126). “Dan ada sebagian manusia yang rela menjual (baca : mengorbankan) dirinya karena mencari keridhaan Allah, dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya”.

Samurrah bin Jundub, salah satu penjahat kelas kakap Bani Umayyah, menerima uang sebesar 400 ribu dirham untuk mengingkari turunnya ayat tersebut kepada Ali as. Ia menyampaikan di tempat umum bahwa ayat tersebut turun berkaitan dengan Abdurrahman bin Muljam. Ia tidak hanya mengingkari turunnya ayat tersebut terkait dengan pribadi Ali as, bahkan ia juga menambahkan bahwa ayat lain yang turun mengenai Ali as, ayat tentang orang-orang munafik (Syarah Nahjul Balaghah, Ibnu Abi al-Hadid, jilid 4, hal 73). Ayat tersebut berbunyi: “Dan ada sebagian orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu dan menjadikan Allah sebagai saksi (atas kebenaran) isi hatinya, sedangkan ia adalah musuh yang paling keras” (Baqarah: 204).

Penafsiran semacam ini dari seorang Samurrah adalah sangat mudah. Pada zaman Ubaidillah bin Ziyad menjadi gubernur Irak, ia sebagai bupati Basrah. Kebenciannya terhadap Ahlul Bait Nabi dan pecinta mereka membuat ia membunuh sekitar 8 ribu orang. Kejahatan mereka hanya satu, mencintai keluarga Nabi Muhammad saw. Ia seakan tidak punya pikiran bahwa dari 8 ribu orang itu, ada yang sama sekali tidak berdosa di matanya. Ketika ditanya mengapa ia tega membunuh pecinta keluarga Nabi seperti itu? Ia menjawab “Dua kali lipat dari jumlah mereka pun aku berani membantai mereka” (Tarikh Thabari, jilid 4, hal 176, kejadian dekade lima puluhan Hijriah, Muassasah Mathbu’at A’lami).

3. Rekayasa keutamaan

Sebagian dari penguasa yang tidak memiliki kelayakan, berusaha untuk mencitrakan dirinya sebagai orang yang layak dan memiliki keutamaan. Untuk itu ia memberi uang kepada orang-orang yang siap merekayasa keutamaan untuk diri dan keluarganya. Berusaha sedemikian rupa agar dia dan keluarganya dekat bahkan memiliki hubungan keluarga dengan Nabi Muhammad saw. Muawiyah yang berasala dari dinasti umayyah. Karena hubungannya dengan Utsman, ia memaksa sekelompok orang untuk merekayasa keutamaan Utsman. Akhirnya, muncul hadis-hadis yang dinukil langsung dari lisan Nabi Muhammad saw.

Para pembuat hadis palsu terkait dengan keutamaan Utsman sedemikian semangatnya sehingga lepas kontrol. Akhirnya, untuk mengontrol mereka, Muawiyah berkata: ”Semestinya kalian juga melakukan hal yang kurang lebih sama terhadap Syaikhain, Abu Bakar dan Umar bin Khatthab (Syarah Nahjul Balaghah, Ibnu Abi al-Hadid, jilid 11, hal 46).

4. Pengingkaran terhadap keutamaan Ahlul Bait Nabi

Rekayasa keutamaan untuk kepentingan mereka adalah ciri khas kelompok ini. Hal yang mengejutkan adalah usaha untuk mengingkari sebuah keutamaan, khususnya keutamaan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. Keutamaan yang telah diriwayatkan lewat hadis mutawatir dan sahih sekalipun. Ahmad bin Taimiyah adalah jagoannya dalam mengingkari keutamaan. Kegemarannya ini membuat Ibnu Hajar al-‘Asqallani berkata:

“Ibn Taimiyah dalam dialognya dengan Ibnu Muthahhar (Allamah Hilli) sampai pada tahap mengingkari hadis sahih. Dalam Minhaj as-Sunnah berdasarkan sifatnya itu, ia mengingkari keutamaan Imam Ali as. Tidak cukup sampai di situ, ia menyebutkan bahwa hadis-hadis tersebut sebagai hadis bohong. Padahal, pada saat yang sama, ulama besar Ahli Sunah menukil hadis-hadis tersebut seperti:

a. Persaudaraan antara Nabi Muhammad saw dan Ali as dalam hadis “Muakhah”

Setelah sampai di Madinah, Nabi mempersaudarakan setiap sahabat dengan lainnya. Sampai pada Ali as, Nabi mengangkatnya sebagai saudaranya. Ibnu Hajar (Fath al-Bari, jilid 7, hal 271), dengan tegas menolak pengingkaran Ibnu Taimiyah terhadap keutamaan Ali as. Ia mempertanyakan mengapa Ibnu Taimiyah mengingkari hadis ini, padahal para tokoh ahli hadis besar menukilnya. Ibnu Hajar sendiri setelah itu membeberkan filsafat persaudaraan yang dilakukan oleh Nabi.

b. Ali as tolok ukur kebenaran

Hadis “Ali Ma’a al-Haq Wa al-Haq Ma’a Ali” (Ali senantiasa bersama kebenaran dan kebenaran bersamanya), untuk menjelaskan bahwa dalam masalah-masalah akidah, sosial dan politik, maka kebenaran senantiasa ada di pihak Ali. Hadis ini diingkari oleh Ibnu Taimiyah karena jauhnya ia dari Ahlul Bait as. Padahal, para tokoh ahli hadis menukil hadis ini. Bahkan Fakh ar-Razi dalam bukunya menyebutkan bahwa hadis ini mutawatir (Mafatih al-Ghaib, jilid 1, hal 205).

Dua contoh di atas menunjukkan bagaimana dalam melakukan tablig, terjadi pendustaan terhadap keutamaan yang telah diterima oleh para ulama.

5. Mengusahakan adanya friksi dalam kelompok pengikut kebenaran

Untuk mengokohkan posisi mereka, salah satu kekhususan lain yang perlu disebutkan adalah menyebarkan perselisihan di kalangan pecinta Ali as. Dalam peperangan antara Imam Ali as dan Muawiyah, tipuan yang dilakukan untuk merusak barisan Imam Ali as adalah dengan mengangkat mushaf. Tipuan berhasil membuat perselisihan di kelompok Ali as. Dari sini muncul kelompok dengan nama Khawarij. Mereka memaksa Imam Ali as untuk menerima gencatan senjata. Di akhir, mereka sendirilah yang kemudian menyesal menerima gencatan senjata tersebut. Mereka kemudian meminta kepada Imam Ali as untuk secara sepihak keluar dari perjanjian. Akhirnya, Imam Ali as menjadi korban dari perselisihan ini.

Kami mencukupkan ciri khas mereka dan pada kesempatan lain akan dijelaskan lebih luas.

6. Penerbitan buku atas nama para tokoh Syi’ah

Telah kami ingatkan bahwa dalam tablig agama harus benar dan dengan jalan yang suci. Salah satu cara tablig yang paling menjijikkan adalah seorang menulis buku sesuai dengan keyakinannya kemudian menerbitkannya dengan nama orang lain. Dengan cara ini, diharapkan citra yang dimiliki oleh tokoh tersebut dapat mendongkrak popularitas keyakinannya.

Sebagai contoh buku “as-Syi’ah Wa at-Tashih”. Buku ini ditulis oleh Wahabi dan nama penulisnya disebutkan Sayyid Musa Musawi. Ia adalah cucu dari marja besar Syi’ah Ayatullah Isfahani. Mereka bertujuan dengan mencatut nama Sayyid Musa Musawi sebagai penulis buku itu, rencana mereka dalam tablig keyakinan mereka akan lebih mulus. Siapa saja yang memiliki hubungan baik dengan Sayyid Musa Musawi semasa hidupnya, pasti menolak penisbatan buku ini terhadapnya. Dan mengatakan bahwa penisbatan itu adalah sebuah kedustaan.

Model tablig semacam ini menunjukkan bahwa Wahabi dalam melakukan tablig menghalalkan segala cara. Mereka tidak sadar bahwa cara seperti ini menunjukkan kebobrokan mereka sendiri dan pada akhirnya tidak akan berhasil.

Beberapa waktu lalu, di Arab Saudi diterbitkan sebuah buku dengan judul “Ta’ammulat Fi Nahjul al-Balaghah”. Qadhi Qathif, Syaikh Saleh Darwisyi, memberikan komentar atas buku tersebut. Saya menuliskan kritik terhadap buku itu dan yang saya kritik adalah Syaikh Saleh Darwisyi. Judul buku saya “Hiwar Ma’a as-Syaikh Saleh Darwisyi” dan sudah diterjemahkan ke bahasa Parsi juga.

Buku saya juga dicetak dan diterbitkan di Arab Saudi. Hal itu membuat usaha Wahabi menjadi terganjal. Mereka ingin menutupi kelemahan yang ada dengan menerbitkan buku “Qira’atun Rasyidah Li Kitab Nahjul Balaghah”, karangan Abdurrahman bin Abdillah al-Jamian. Untuk membohongi jamaah haji Iran, mereka menerjemahkan buku itu dengan judul “Nahjul Balaghah Ra Dubareh Bekhanim” (Membaca kembali Nahjul Blaghah) dan menerbitkannya. Nama penerjemah ditulis Ja’far Subhani.

Bila melihat isi buku, di sana tidak tertulis nama percetakan dan penerbitan bahkan tidak dicantumkan tahun dicetak. Kelihatannya mereka begitu tergesa-gesa dalam mencetak buku ini sehingga tidak mencantumkan semua itu. Yang lebih lucu lagi, cover buku tertulis “Nahjul Balaghah Ra Dubareh Bekhanim” sementara pada halaman ke tiga judul buku ditulis “Hamgam Ba Nahjul Balaghah” (Bersama Nahjul Balaghah). Melihat bentuk pemilihan huruf dan lay out dapat di dipastikan bahwa semuanya dilakukan di Arab Saudi.

Kerja seperti ini merupakan bukti dari kalimat ““Alhamdulillah, Allah Zat yang telah menjadikan musuh-musuh kami dungu” (Alhamdulillah al-Ladzi Ja’ala A’da’ana Humaqa’). Karena bila buku ini dibaca oleh siapa saja, dapat mengetahui bahwa perbuatan ini hanyalah penipuan belaka. Apa lagi bila mengenal saya dengan buku-buku yang saya tulis. Tentunya, buku ini tidak saja tidak memiliki dampak apa-apa, bahkan keimanan orang akan semakin kokoh dengan tuntunan Imam Ali as.

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa nama percetakan dan penerbit tidak dituliskan, namun karena diterbitkan di tahun ini, pada musim haji tahun ini, di Arab Saudi lewat para mubalig resmi Wahabi buku ini dibagi-bagikan. Secara syariat Islam dan undang-undang, saya memiliki hak untuk melakukan protes.

Beberapa waktu lalu juga telah diterbitkan buku yang memuat dialog antara Ibnu Taimiyah dan Allamah Hilli. Ketika saya membaca buku itu, saya menjadi terheran-heran. Bagaimana mungkin mereka menisbatkan cara berpikir yang dangkal terhadap Allamah Hilli. Mereka berusaha menjatuhkan citra Allamah Hilli, yang di dunia Islam dikenal akan kejeniusannya, dalam berdialog dengan Ibnu Taimiyah?

Ibnu Hajar dalam bukunya ‘at-Tahdzib” dan “Lisan al-Mizan” (Lisan al-Mizan, jilid 13, hal 85, nomor 79), menyifati Allamah dengan ucapan: “Kana Ayatan Fi az-Dzaka’ (Allamah al-Hilli adalah contoh kejeniusan).

Kembali pada buku dialog Allamah al-Hilli dengan Ibnu Taimiyah. Hanya ada dua kemungkinan; pertama, dialog itu dirubah oleh mereka atau kedua, secara utuh dialog itu direkayasa oleh mereka.

Semua ini menuntun kita pada satu hal, bahwa jangan sampai kita percaya pada data dan sumber-sumber rujukan yang mereka pakai untuk membenarkan akidah mereka. Harus melihat itu dengan kaca mata ragu sehingga melahirkan sikap untuk mengecek kembali kebenarannya.

Allah swt berfirman: “Katakanlah:” Apakah akan Kami memberitahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya”. Yaitu orang- orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik- baiknya” (Kahfi: 103-104).[infosyiah]