Kamis, 27 Maret 2008

Karomah Imam Khomeini

IMAM KHOMEINI MENGHILANG

Hujjatul Islam wal Muslimin Jalali Khomeini mengisahkan:

Seorang teman mengisahkan:
Saat kedatangan Imam Khomeini dari Paris, saya melihat seseorang di Bahesti Zahra (pemakaman para syuhada, tempat yang dituju Imam Khomeini pertama kali saat kembali dari pengasingannya—peny.) berusaha menyingkirkan orang-orang dan bergegas maju untuk melihat Imam Khomeini. Kondisi orang itu tampak tidak wajar. Saya pun terdorong untuk menyelidiki penyebab upaya-gigih orang itu.
Kemudian, saya bertanya kepada orang itu, yang dijawabnya, "Saya mempunyai sebuah cerita yang tidak Anda ketahui. Ketika Imam Khomeini dipenjara, saya seorang tentara dan teman saya bertanggung jawab mengawasi sel Imam Khomeini. Tampaknya dia tidak mengenal Imam Khomeini. Teman saya itu bercerita kepada saya, 'Saya melihat hal menakjubkan pada Sayyid ini. Terkadang, dia sibuk mengerjakan shalat di dalam sel, dan terkadang saya tidak melihatnya di dalam sel. Kemudian, saya membuka kunci sel dan mencari-cari beliau, namun saya tidak melihatnya. Saya pun mengunci pintu sel. Akan tetapi, beberapa menit kemudian, saya melihat beliau mengerjakan shalat di dalam sel.' Singkat cerita, kami bergantian tempat atas usul teman saya itu, dan saya pun menjadi penjaga sel Imam Khomeini. Mulanya, saya tidak mengenal lelaki agung itu. Tetapi, mendengar cerita aneh teman saya, saya penasaran untuk menyelidiki kebenaran cerita itu. Saya pun menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri kejadian menakjubkan tersebut. Meski pintu sel terkunci, Imam Khomeini tidak ada di dalamnya. Kejadian ini membuat saya kagum pada keagungan pribadi Imam Khomeini. Akhirnya, saya pun berhasil mengenal lelaki agung itu. Saat mereka mengetahui kedekatan dan kecintaan saya pada Imam Khomeini, mereka pun menangkap, menyiksa, dan menyakiti saya."




DI MANAKAH IMAM KHOMEINI BERADA

Dokter Mas'ud Pur Muqaddas mengisahkan:
Tiga tahun sebelum kepergian Imam Khomeini, beliau terkena stroke sehingga detak jantungnya melemah. Berkat pertolongan Allah, kami berhasil menyelamatkan dan memulihkan kesehatan beliau. Operasi dilakukan cepat. Setelah itu, kami harus memasang alat pemicu detak jantung yang dioperasikan dengan tenaga batere di tubuh beliau.
Allah menurunkan pertolongan-Nya dan kami berhasil melakukan operasi tersebut dengan cepat. Alat yang kami pasang di tubuh Imam Khomeini bekerja tanpa kabel dan digerakkan oleh energi batere. Tidak diketahui secara pasti kapan masa aktif batere itu habis. Terkadang, masa aktif batere itu habis pada pertengahan malam; dan adakalanya pula di siang hari. Sementara, kami semua merasa khawatir. Imam Khomeini menyarankan agar kami tidak boros dalam menggunakan batere dan kami tidak boleh menggantinya sebelum masa aktifnya habis. Kami menjelaskan kepada beliau, "Ada kemungkinan, masa aktif batere akan habis pada jam dua atau tiga pagi, dan kami tidak ingin merepotkan Anda." Beliau mengatakan, "Tidak ada masalah. Setiapkali batere habis, kalian berhak masuk ke ruangan saya dan mengganti batere itu. Tatkala batere habis, kalian bisa datang dengan hanya mengucapkan, 'Ya Allah', serta mengetuk pintu. Jika saya mengatakan, 'Bismillah', maka kalian boleh masuk."
Suatu malam, sekitar jam tiga atau empat pagi, masa aktif batere mulai habis. Malam itu adalah malam Jumat. Kemudian, kami mendatangi kamar Imam Khomeini dan mengucapkan, 'Ya Allah'. Namun, kami tidak mendengar jawaban, 'Bismillah' dari Imam Khomeini. Saat itu, kami sangat khawatir. Meskipun kami tidak mendengar ucapan, 'Bismillah' dari Imam Khomeini, kami tetap masuk ke ruangan beliau. Akan tetapi, kami sangat terkejut karena ternyata beliau tak ada di atas tempat tidurnya. Segeralah saya keluar dan menceritakan apa yang terjadi kepada salah seorang pegawai rumah sakit. Saya katakan padanya, "Coba Anda periksa beberapa kamar, barangkali Imam Khomeini ada di sana."
Orang itu memeriksa semua tempat. Tak lama kemudian, dia datang kepada saya dan mengatakan, "Imam Khomeini tidak ada di tempat ini." Saya berpikir, barangkali Imam Khomeini berada di dalam. Kemudian, kami pergi menemui seorang wanita yang bertugas menjaga bagian dalam dan menceritakan kepadanya apa yang terjadi. Wanita itu berkata, "Imam Khomeini tak datang ke tempat ini." Saya meminta wanita itu membantu saya mencari Imam Khomeini. Sekali lagi, kami memeriksa seluruh ruangan, namun kami tidak menjumpai Imam Khomeini. Kemudian, kami bertiga kembali memeriksa kamar Imam Khomeini dan beliau pun tidak ada di tempat tidurnya. Kami sangat kebingungan.
Lalu saya katakan kepada pegawai rumah sakit, "Coba Anda bangunkan Sayyid Ahmad Khomeini dan ceritakan pada beliau apa yang terjadi." Pegawai itu mengatakan, "Sayyid Ahmad Khomeini tidak datang." Saya pun bertambah bingung dan bertanya-tanya: di manakah Imam Khomeini berada? Lantaran malam itu malam Jumat, Sayyid Ahmad Khomeini berada di Qum. Kira-kira 20 menit kemudian, saya meminta Syaikh Isa untuk kembali memeriksa ruangan Imam Khomeini. Tak lama, Syaikh Isa kembali dan dengan wajah gembira mengatakan, "Imam Khomeini sedang duduk di atas tempat tidurnya. Beliau tersenyum dan tampak bahagia."
Mendengar berita ini, saya pun amat senang. Tetapi, saya tak berani bertanya pada Imam Khomeini perihal keberadaan beliau. Sebab, saya pikir, barangkali beliau mengalami kejadian-kejadian yang sulit saya mengerti. Mengapa kami tak menemukan beliau? Padahal, kami telah memeriksa seluruh ruangan sebanyak empat kali. Kami berpikir, mungkin Imam Khomeini mengalami suatu keadaan di mana kami tak boleh berjumpa beliau. Kemudian, kami mencium tangan Imam Khomeini yang penuh berkah dan mengganti batere tersebut. Setelah itu, kami keluar dari ruangan beliau. Tetapi, benak kami masih dihinggapi tanda tanya: di mana Imam Khomeini berada malam itu?
(Nyonya Thabathaba'i mengisahkan, "Selang beberapa lama kemudian, saya menanyakan kejadian itu kepada Imam Khomeini. Beliau pun tertawa dan tak berkata apa-apa. Saya pun tidak berani bertanya lagi pada beliau.")

PERTOLONGAN GHAIB

Hujjatul Islam wal Muslimin Sayyid Jawad Alamul Huda mengisahkan:

Hubungan Imam Khomeini dengan para imam suci terjalin sedemikian rupa, sehingga saya dan orang-orang seperti saya tak mampu menjangkaunya. Saya adalah orang kepercayaan Imam Khomeini yang mendapat perintah langsung dari beliau untuk menyampaikan surat kepada Imam Kedelapan (Imam Ali bin Musa al-Ridha) di kota Masyhad.
Pada akhir tahun 1341 Hijriyah Syamsiyah, Imam Khomeini mulai menjelaskan kepada kaum muslimin tentang perlawanannya (terhadap penguasa zalim) di masjid al-A'dham (kota Qum). Dengan perantara surat, Imam Khomeini berupaya menyadarkan para ulama besar di setiap kota di Iran, bahkan yang tinggal di kota-kota perbatasan Iran.
Karena saya penduduk kota Masyhad, maka saya mengenal dengan baik kaum ruhaniawan, mulai dari kota Khurasan (Masyhad) hingga kota Zahedan. Imam Khomeini menulis sepuluh pucuk surat yang ditulis beliau sendiri untuk para ulama di pelbagai kota di Iran. Imam Khomeini juga menjelaskan kepada saya tentang bahaya ancaman Amerika dan antek-anteknya di Iran masa itu.
Suatu malam, pukul 22.00, saya ke rumah Imam Khomeini guna mencium tangan beliau untuk yang terakhir kalinya dan mengambil surat dari beliau. Imam Khomeini berkata kepada saya, "Jangan sampai ada orang yang mengetahui perjalanan Anda dan tugas Anda. Sebelum melakukan hal-hal lain, berziarahlah ke makam suci Imam Ali bin Musa al-Ridha di Masyhad dan sampaikanlah kepada beliau kalimat berikut ini:
"Wahai junjunganku! Kami hendak melakukan langkah besar demi Islam dan menyelamatkan kaum muslimin secara luas. Jika Anda menganggap langkah ini baik, maka dukunglah kami. Dan bila Anda menganggapnya buruk, maka kabarkanlah pada kami saat ini juga; kami akan menghentikan langkah kami sekarang juga.'"
Imam Khomeini menekankan pada saya, "Janganlah Anda sampaikan kalimat ini pada siapapun juga!"
Atas dasar ini, sebelum berjumpa kaum ruhaniawan di Masyhad, saya langsung berziarah ke makam suci Imam Ali bin Musa al-Ridha dan menyampaikan secara persis kalimat-kalimat Imam Khomeini itu di hadapan makam suci Imam Ali al-Ridha.
Setelah itu, saya menyerahkan surat Imam Khomeini kepada kaum ruhaniawan di Masyhad dan beroleh persetujuan tertulis dari mereka. Rencananya, mereka akan mengirimkan surat (persetujuan) itu secara langsung ke rumah Imam Khomeini.
Dari Masyhad, saya menuju kota Turbat. Dari kota Turbat, saya lanjutkan perjalanan ke kota Firdaus. Dari kota Firdaus, saya ke kota Birjand. Dan dari kota ini, saya menuju kota Zahedan.
Surat terakhir ditujukan untuk Ayatullah Kaf'ami, ulama besar dan pejuang di provinsi Baluchestan. Beliau menyambut dengan penuh hormat surat Imam Khomeini dan menciumnya.
Sebelumnya, Ayatullah Kaf'ami bersepakat dengan Maulawi Abdul Aziz untuk mengadakan shalat Jumat di kota Zahedan. Pada Jumat pertama, Maulawi Abdul Aziz memimpin shalat Jumat di masjid umum kota Zahedan. Dan pada Jumat berikutnya, Ayatullah Kaf'ami bertindak sebagai khatib dan imam shalat Jumat di masjid jamik kota Zahedan. Kebetulan, esok harinya bertepatan dengan giliran Ayatullah Kaf'ami memimpin shalat Jumat di masjid jamik Zahedan.
Hari itu, Ayatullah Kaf'ami datang dengan mengenakan kain kafan dan membawa pedang di tangannya. Maulawi Abdul Aziz dan seluruh ulama (termasuk ulama Ahlussunnah) turut hadir dalam shalat Jumat tersebut. Pada khutbah kedua, Ayatullah Kaf'ami membacakan surat Imam Khomeini dengan jelas dan lantang. Dengan segala persiapan yang telah dilakukan sebelumnya, usai shalat Jumat, masing-masing kelompok dari mazhab Syiah dan Sunah sepakat menandatangani surat persetujuan, sebagai bukti dukungan atas gerakan Imam Khomeini. Pada saat itulah, terlintas di benak saya; pesan Imam Khomeini untuk Imam Ali bin Musa al-Ridha telah beroleh persetujuan beliau dan mendapat dukungan ghaib.
Surat-surat persetujuan dari kaum muslimin terkumpul sangat banyak. Ayatullah Kaf'ami bersedia berangkat bersama saya menuju kota Qum, guna menyerahkan surat-surat dukungan itu kepada Imam Khomeini. Tatkala saya menceritakan kepada Imam Khomeini tentang kejadian yang saya alami selama di perjalanan, saya merasa Imam Khomeini telah beroleh jawaban berupa dukungan langsung dari Imam Ali bin Musa al-Ridha.

0 komentar: